Akankah Aku Akan Bermaksiat Lagi Selepas Ramadan?
Ketahuilah, bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan ketaatan. Di dalamnya kaum muslimin berlomba-lomba memperbanyak ibadah, berpuasa, salat tarawih, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan bangun malam untuk bermunajat kepada Allah. Namun, ada banyak pertanyaan penting yang patut direnungkan: Apakah ketaatan itu akan tetap terjaga setelah Ramadan berlalu? Apakah orang yang berpuasa akan tetap seperti dirinya di bulan Ramadan setelah Ramadan berlalu? Ataukah ia akan kembali bermaksiat kepada Allah setelah Ramadan?
Orang yang selama Ramadan rajin salat malam, berpuasa, membaca Al-Qur’an, bersedekah, bangun malam untuk beribadah dan berdoa, apakah semua itu akan terus ia jaga setelah Ramadan? Ataukah justru ia kembali melakukan berbagai dosa, maksiat, dan hal-hal yang membuat Allah murka kepadanya?
Jika seorang muslim tetap menjaga amal salehnya setelah Ramadan, itu adalah tanda bahwa amalnya diterima oleh Allah Yang Maha Pemurah. Namun, jika setelah Ramadan ia meninggalkan amal saleh dan kembali mengikuti jalan setan, maka itu adalah tanda kehinaan dan keterpurukan dirinya.
Karena jika seorang hamba telah menjadi hina di sisi Allah, tidak ada seorang pun yang mampu memuliakannya. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكْرِمٍ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَآءُ
“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apapun yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 18)
Yang mengherankan adalah ketika kita melihat sebagian orang di bulan Ramadan begitu rajin berpuasa, salat tarawih, bangun malam untuk beribadah, bersedekah, banyak beristigfar, dan taat kepada Allah. Namun begitu Ramadan selesai, keadaannya berubah drastis. Hatinya seperti kembali rusak, ia mulai bermaksiat kepada Alla. Ia mulai meninggalkan salat, menjauhi kebaikan, dan justru terjerumus dalam berbagai bentuk maksiat. Ia pun melakukan bermacam-macam dosa dan pelanggaran, menjauh dari ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Seorang muslim seharusnya menjadikan bulan Ramadan ini sebagai kesempatan untuk membuka lembaran baru, bertobat, kembali kepada Allah, menjaga ketaatan, dan selalu merasa diawasi oleh-Nya setiap saat.
Oleh karena itu, setelah bulan Ramadan, kita seharusnya tetap istikamah dalam kebaikan, terus melakukan amal saleh, dan menjauhi segala bentuk maksiat, sebagai bentuk kesinambungan dari ibadah-ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadan yang mendekatkan kita kepada Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Jika kamu melakukan keburukan, maka ikutilah dengan kebaikan, karena kebaikan itu akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987)
Tujuan Allah menciptakan manusia sebenarnya sangat jelas, yakni agar mereka beribadah kepada-Nya semata tanpa menyekutukan-Nya. Inilah tujuan hidup yang paling agung, yaitu menjadi hamba Allah yang sejati dan senantiasa beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Di bulan Ramadan ini, kita sering melihat fenomena indah dari ibadah itu sendiri. Masjid-masjid dipenuhi orang yang datang berbondong-bondong untuk beribadah kepada Allah. Orang-orang berusaha menjaga salat tepat waktu, gemar bersedekah, salat malam, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan bersemangat melakukan amal saleh. Namun yang paling penting adalah siapa yang tetap istikamah setelah Ramadan.
Allah Ta’ala juga berfirman,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ
“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan yang baik, dan amal saleh Dia angkat. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan, mereka akan mendapat azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.” (QS. Fathir: 10)
Karena itu, amal saleh adalah salah satu cara terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah kapan pun dan di mana pun. Kita juga harus ingat bahwa Rabb kita di bulan Ramadan adalah juga Rabb kita di bulan-bulan lainnya sepanjang tahun.
Puasa Ramadan memang sudah selesai, tetapi ibadah-ibadah yang lain masih tetap ada, baik salat lima waktu, sedekah, maupun ibadah-ibadah lainnya. Semua itu adalah tanggung jawab kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Seorang mukmin yang bertakwa dan bersih hatinya seharusnya selalu takut kepada Allah, berusaha taat kepada-Nya, menjaga ketakwaan, serta terus berusaha melakukan kebaikan. Ia juga harus berusaha mendakwahkan kebenaran, mengajak orang lain kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran.
Karena kehidupan seorang mukmin itu seperti tempat menyimpan amal. Setiap orang harus memperhatikan apa yang ia isi di dalamnya. Jika yang ia isi adalah amal kebaikan, maka kebaikan itu kelak akan menjadi saksi baginya di hadapan Allah pada hari kiamat. Namun, jika yang ia isi adalah keburukan, maka hal itu justru akan menjadi bencana dan kerugian bagi dirinya sendiri. Kita memohon kepada Allah agar menyelamatkan kita semua dari segala bentuk kerugian.
Para ulama juga mengatakan bahwa salah satu tanda amal diterima oleh Allah adalah ketika setelah melakukan satu kebaikan, seseorang terdorong melakukan kebaikan berikutnya. Seakan-akan kebaikan itu mengajak untuk melakukan kebaikan yang lain. Sebaliknya, dosa juga seperti itu, satu dosa akan mengajak kepada dosa lainnya. Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut.
Jika Allah menerima amal seseorang di bulan Ramadan dan ia benar-benar mengambil pelajaran darinya, lalu tetap istikamah dalam ketaatan setelahnya, maka ia termasuk orang-orang yang berjalan bersama orang-orang yang senantiasa istikamah di dalam ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ، نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta’.” (QS. Fussilat: 30–31)
Artinya, perjalanan istikamah itu tidak berhenti setelah usainya Ramadan. Ia terus berjalan dari Ramadan ke Ramadan berikutnya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ
“Salat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadan ke Ramadan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no. 233)
Seorang mukmin seharusnya terus istikamah dalam ketaatan jika ia memahami tujuan hidupnya sebagai hamba Allah. Allah yang telah memberi kita taufik untuk beribadah dengan mudah dan baik di bulan Ramadan adalah Allah yang sama yang akan menolong kita untuk tetap beribadah setelah Ramadan.
Karena itu, jangan lupakan nikmat yang Allah berikan kepada kita di bulan Ramadan berupa nikmat iktikaf, sedekah, puasa, doa, dan doa yang dikabulkan. Jagalah semua kebaikan itu dengan baik. Jangan sampai kebaikan tersebut terhapus oleh dosa dan perbuatan yang sia-sia. Teruslah menanam kebaikan kapan pun dan di mana pun. Tetaplah istikamah dalam ketaatan dengan tujuan mencari keridaan Allah dan surga-Nya, mengikuti Rasul-Nya, dan meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang telah memberi kita nikmat ibadah, salat, berpuasa, iktikaf, bersedekah, dan ibadah lainnya, agar Dia juga memberikan kepada kita hidayah, ketakwaan, serta menerima amal-amal kita di bulan Ramadan ini.
Semoga Allah juga memberi kita kekuatan untuk terus melakukan amal saleh dan tetap istikamah dalam melakukannya di bulan Ramadan maupun setelahnya. Karena terus menjaga amal kebaikan adalah salah satu cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
***
Penulis: Chrisna Tri Hartadi
Artikel Muslim.or.id
Artikel asli: https://muslim.or.id/112959-akankah-aku-akan-bermaksiat-lagi-selepas-ramadan.html